Pergerakan Records Label dan Perannya di Industri Kreatif

Pergerakan Records Label dan Perannya di Industri Kreatif

Pergerakan indie label ini terbilang lebih tangguh untuk bertahan, karena berbasis sistem komunitas, sehingga lebih berakar dan tangguh

Berbicara soal musik memang banyak yang dibahas, dari mulai jenis/genre musik, band, karya musik, merchandise, digital dan bla bla bla lainnya yang berhubungan dengan musik. Disini saya akan menulis sedikit tentang hal yang pernah saya alami dan juga kuat kaitannya dengan musik, terutama dengan band, yaitu label rekaman atau records label.

Records label merupakan salah satu dari ekosistem musik yang cukup penting perannya untuk sebuah band, di mana banyak dampak dari adanya records label di sebuah skena musik, biasanya dimulai dari rilisan fisik seperti kaset pita, vinyl, CD, sampai akhirnya menjadi kendaraan bagi musisi untuk bisa publish di digital platform.

Disambung lagi dengan aktivitas promo seperti share press kit, video klip, launching album, promo tour, dll. Di Bandung sendiri mungkin sekitar tahun 1990an sudah mulai ada records label yang berdiri seperti 40.1.24, Riotic Records, Harders Records, ESP Records, hingga My Own Deck Records. Banyak sekali pada waktu itu band-band dari Bandung yang dirilis oleh records label tersebut diatas, bahkan sekarang ada salah satu album (berupa kaset) yang diburu para kolektor, sepert salah satunya album Bandung Burnings Vol 1, di mana album kompilasi ini sendiri berisikan 17 band Punk di dalamnya.

Tahun1990an-2000an biasanya kita bisa menebak genre musik sebuah band berdasarkan records label yang merilis, seperti misalkan Harder Records dengan band-band hardcore nya, United Race Records yang memunculkan band-band skinhead, serta My Own Deck yang melahirkan banyak band melodic punk.

Selain itu, ada juga nama Broken Board Records yang cukup kental dengan nuansa skateboard dan melodic punk. Sebagai catatan, Broken Board Records ini lahir pada tahun 2006 lalu. Label ini cukup berani berkiprah di dunia records label, di mana untuk band saya sendiri, Rosemary band ini cukup berperan penting, karena label inilah yang merilis album Rosemary dari yang pertama hingga sampai saat ini, tepatnya sampai album ketiga Rosemary.  

Sebagai catatan juga, semua album Rosemary terbilang terpublish dengan baik, di mana hal ini terbukti dengan eksistensinya Rosemary sampai saat ini. Bisa dibilang tidak banyak dan tidak mudah untuk tetap bisa bertahan dan melahirkan karya bagi sebuah band.

Dibandingkan dengan arus utama yang lazim dihubungkan dengan major label, pergerakan indie label ini terbilang lebih tangguh untuk bertahan, karena berbasis sistem komunitas, sehingga lebih berakar dan tangguh. Bahkan aktif merilis album dari band-band lokal yang semakin hari semakin beragam. Membaiknya skema musik akan memberi dampak yang positif kepada semua yang terlibat didalamnya, mulai dari event organizer, vendor sound, bahkan berpengaruh ke industri kreatif lokal seperti clothing line misalnya.

Sekecil apapun pergerakan positif kita, hal itu akan berpengaruh kepada sektor industri kreatif yang lain. Jadi buat kawan kawan yang terlibat didalam ekosistem musik indie tetaplah bersemangat, jangan kasih kendor !!!!!! 

BACA JUGA - Dari Balik Layar Konser Mesin Gerinda

Fajar Juliandri

Fajar Juliandri merupakan seorang bassis dari grup musik Rosemary. Selain itu aktfif juga mengelola Glasgow Barbershop dan Location 28 di Bandung 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner