Musik dan Karakter Penggemarnya

Musik dan Karakter Penggemarnya

Bisa jadi orang terbentuk karena musik yang didengarnya, atau pada awalnya satu genre musik terbentuk karena karakter orang yang memainkannya

Bukan tanpa alasan ketika ada banyak penggemar musik rock sering menyerukan kutipan “break the rules, just rock 'n roll”. Satu kutipan yang sedikit banyak bisa mewakili esensi yang dibawa oleh jenis musik ini, dengan segala citra yang dibawa musik rock untuk para penggemarnya. Mereka merasa terwakili dengan alunan musik rock yang menghentak dengan pembawaan karakter mereka yang keras, cenderung berontak, dan bersemangat. Jadi, ada semacam persamaan yang membuat para penggemar musik rock merasa terwakili dengan genre musik yang mereka sukai itu.

Lain dengan rock, lain pula dengan genre musik lainnya seperti pop atau jazz, dua genre musik yang secara teknis bermusiknya lebih terbilang soft dibanding musik rock tadi. Karakter orang yang menggemari genre musik ini pun biasanya cenderung lebih kalem dan santai dalam pembawaannya. Kalaupun sedikit lebih liar, biasanya ketika mereka di atas panggung memainkan musik dengan segala bentuk ekspresi yang mereka tuangkan.

Bisa jadi orang terbentuk karena musik yang didengarnya, atau pada awalnya satu genre musik terbentuk karena karakter orang yang memainkannya. Seperti halnya Ozzy Osbourne dengan heavy metalnya dan Bob Marley dengan Jamaican musiknya. Keduanya menjadi identik dengan genre musik yang dibawakannya.

Begitu juga lewat propaganda dalam bentuk visual seperti dalam poster atau cover CD dan kaset seorang musisi atau band, ketika sebuah ilustrasi visual bisa menggambarkan genre musik yang dimainkan oleh si musisi atau band lewat gambar tersebut. Ada yang berupa gambar tumpukan tengkorak dan tulisan ala tetesan darah dari sebuah band yang mengusung musik metal, ada yang berupa gambar sebuah taman dan balon udara untuk jenis musik yang lebih ngepop. Gambar-gambar itu dibuat bukan tanpa alasan, sampai pada akhirnya bisa digambarkan seperti itu. Semuanya mewakili citra yang ingin dibawa jenis musik yang diusungnya.

Musik adalah sebuah budaya. Jadi, lahirnya pun bersamaan dengan akar budaya yang pada akhirnya terbawa pada proses penciptaannya. Seperti misalnya, blues dan jazz yang mengusung kebebasan dalam bermusik yang lahir dari kaum buruh kulit hitam yang ingin berekspresi dengan bebas disela-sela rutinitas pekerjaanya. Dari semua kepenatan saat mereka bekerja musik menjadi pelarian sekaligus hiburan bagi mereka, hingga membuat musik blues dan jazz tidak mempunyai ‘batasan’. Berawal dari keterbatasan hingga dibuat menjadi tanpa batasan. Genre musik yang diawali oleh ekspresi bermusik para buruh itu, hingga pada akhirnya malah menciptakan suatu karakter musik yang secara teknis lebih bebas dan tidak terikat aturan baku seperti halnya musik klasik dengan disiplin bermain musiknya yang tinggi.

Lalu, ada juga musik punk yang sarat akan pemberontakannya. Pembawaannya jadi lebih straight to the point dalam hal teknis bermusiknya lewat jurus tiga kunci gitar itu. Propagandanya lebih ke wacana dalam lagunya, dibanding harus pusing menyoroti hal teknis bermain musiknya. Namun, justru dengan itu karakter jenis musik ini sangat kuat, melalui semua wacana-wacana yang diangkat ke permukaan lewat musisi yang memainkan musik punk ini.

Secara umum penggambarannya akan seperti itu. Meskipun, jika dilihat lebih dalam karakter orang yang menggemari suatu genre musik itu tidak selalu sama dengan musik yang digemarinya. Mengingat ada banyak orang dengan pembawaannya yang keras namun menyukai musik lembut, dan sebaliknya ketika ada orang yang dengan pembawaannya yang lembut malah menyukai musik yang terbilang keras. Kembali lagi, jika musik adalah tentang rasa dan selera. Sejauh mana rasa ditangkap panca indera, yang kemudian dituangkan dalam bentuk ekspresi kecintaan akan apa yang dihasilkan suara yang tersusun dalam ritme dan melodi lagu yang enak didengar bagi para pecintanya. Selera terhadap genre musik yang berbeda-beda juga bukan lantas malah mengkotakan musik jadi berbagai kubu. Ini lebih kepada pilihan mana yang lebih sesuai dengan esensi yang bisa ditangkap oleh si penggemar rock, pop, atau jenis musik lainnya yang dianggap mewakili.

Teriak lantang untuk sebuah kebebasan berekspresi lewat rock 'n roll, bersenandung nyaman di taman bersama musik pop, lalu menunduk mengalun sendu bersama para penggemar shoegaze, dan tanpa kompromi ketika distorsi kencang berteriak bersama para penggemar musik metal. Apapun itu, setiap jenis musik lahir dengan pembawaan karakternya yang kuat, yang pada akhirnya menjadi sebuah keindetikan yang biasa dipropagandakan atau malah dianut para penikmatnya.

“Musik adalah gambaran jiwa seseorang yang dituangkan melalui bunyi atau suara” – Pano Banoe

BACA JUGA - Lebih Enak Menjalani Karir Solo Atau Ngeband?

Maulana Agung

Agung merupakan komposer dan gitaris dari beberapa grup musik seperti Malire, Gumam, Parahyena, Resaw dan dia juga tergabung dalam artvel indonesia sebagai program manager.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner