20 Lagu Pilihan DCDC 2023

20 Lagu Pilihan DCDC 2023

365 hari memang terasa sangat singkat, terutama dalam urusan musik yang setiap harinya banyak bermunculan karya terbaru. Di penghujung 2023 ini Tim Redaksi DCDC berhasil mengkurasi 20 lagu yang kiranya cocok masuk dalam katalog musik pembaca

Tak terasa perjalanan belantika musik Indonesia sudah berada di penghujung tahun. Banyak eksplorasi musik tercipta, entah itu dari para punggawa lama, maupun para pendatang baru. Selama tahun 2023 ini meja redaksi DCDC dipenuhi dengan ragam rilisan, terutama dalam lajur musik yang banyak menyajikan berbagai karya dinamis dan penuh warna dari berbagai macam genre. Semua kreasi itu secara rutin DCDC beritakan guna meningkatkan eksistensi para band/musisi, dan juga menyebarkan kolase musik berkualitas bagi para pembaca setia website DCDC.

365 hari memang terasa sangat singkat, terutama dalam urusan musik yang setiap harinya banyak bermunculan karya terbaru. Di penghujung 2023 ini Tim Redaksi DCDC berhasil mengkurasi 20 lagu yang kiranya cocok masuk dalam katalog musik pembaca. Tentunya proses kurasi 20 lagu ini tidak mudah, mengingat kualitas musik dari para band/musisi hari ini saling berlomba menghadirkan karya jempolan. Namun dengan pertimbangan komposisi musik, lirik, dan segala penilaian lainnya Tim Redaksi DCDC lakukan. Penasaran ada siapa saja? Simak daftar 20 lagu tahun 2023 pilihan DCDC berikut ini!

 

 

Closure – Paradigm

Band yang membawa nuansa Post Punk ini memulai babak baru dalam petualangan musiknya dengan menghadirkan Single “Paradigm”. Di sini Closure menghadirkan wajah Post Punk hari ini dengan ‘gagah’, di mana unsur dari leluhurnya, Joy Division, terasa sangat kentara yang dipadukan dengan segala pola kreasi yang mereka bawa membuat lagu ini terasa segar.

 

Femm Chem – Bonie

“Bonie” diusung sebagai single yang akan membuka perjalanan bermusik Isa Pradana (guitar), Intan Ristarini (vocal, guitar), Zuma Mahardhika (synth), Dimas Sadewa (bass), dan Ferdinandus Erdin (drum) yang akan merujuk pada rentetan karya mereka selanjutnya.

 

Mandoors – Mau Jadi Apa

Secara garis besar dalam lagu yang berdurasi tiga menit delapan detik ini, Mandoors dalam single “Mau Jadi Apa” membahas tentang arah hubungan pertemanan keempat personil dan ketakutan yang menyertai mereka. 

 

Sunwich – False Expectacion

Membawa bendera Indie-Pop, band asal Jakarta ini tampil gemilang lewat isian musik yang catchy di lagu “False Expectation”. Lagu ini memiliki daya pikat yang kuat, terutama pada vokal yang ciamik mampu memperkuat warna yang dibawa oleh Sunwich.

 

Ikkubaru – Lagoon

Pada isian musiknya ikkubaru menawarkan sentuhan berbeda lewat karakter gitar jazz fusion di bagian intro dan outro, namun masih terdengar kesan city pop, khas dari ikkubaru pada bagian refrain. Hal ini diakui mereka mendapat pengaruh kuat dari gaya musik musisi senior asal Jepang, Masayoshi Takanaka yang terdengar kental pada nomor “Lagoon” ini.

 

Nonekos – Rush Time

Kembali berbicara tentang single terbaru “Rush Time”. Nonekos mengungkap bahwa secara alur cerita, lagu ini melanjutkan tema tentang seseorang yang diangkat dalam single sebelumnya yang berjudul “I Can’t Sleep Tonight”, dimana lagu ini menceritakan seseorang yang tidak bisa terlelap sepanjang malam.

 

The Halfseason – Roam

Lagu berjudul “ROAM” ini membawakan kisah tentang kehidupan seorang anak muda yang masih memiliki waktu panjang untuk berkelana, kemanapun untuk mencari jati dirinya sendiri sebelum masa tuanya yang rentan – tidak seleluasa seperti anak muda kembali.

 

The Makmoors – Tarik Dugul

Dalam lagu ini, The Makmoors tak hanya menyuguhkan strumming guitar pada umumnya yang terdengar di musik ska punk, namun juga menonjolkan repetisi dari riff guitar yang kece serta lick yang asik, sehingga terdengar semakin membangkitkan gairah.

 

Fiko Nainggolan feat Noh Salleh – “Dewi Pelita”

Merilis single baru dengan titel “Dewi Pelita”, menjadi sebuah gebrakan tersendiri bagi Fiko ketika dirinya berkesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi kenamaan asal Malaysia, Noh Salleh. Kolaborasi ini datang dengan begitu spontan bagi Fiko maupun Noh. Kisah mereka diawali dengan sebuah pesan singkat di salah satu media sosial.

 

Pelteras – “Diadem”

“Diadem” diceritakan Adam Bagaskara berbicara tentang interaksi manusia dengan informasi. Ide besarnya adalah mengingatkan diri untuk tidak selalu ‘menoleh’ ke tawaran informasi atau gagasan yang mungkin mengalihkan atau bahkan mendistraksi perhatian kita dari hal-hal yang sepatutnya lebih diberikan perhatian.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner